MUNGKIN kita pernah mendengar istilah suami takut istri seperti tergambar pada sinetron komedi (sitkom) yang pernah ditayangkan di televisi era 2.000-an. Istilah itu juga pernah dijadikan sebuah lagu yang didendangkan pelawak kondang Sule, berjudul ‘Susis’ alias suami sieun istri.
Kalau di sitkom meskipun takut istri, sang suami masih kelihatan belangnya. Setiap melihat perempuan cantik dan seksi di depan istrinya tetap jelalatan. Nah, pada kasus rumah tangga Yani (29) dan Yana (31), keduanya nama samaran, lain lagi. Kisah Yani dan Yana ini mudah-mudahan bisa menginsiprasi banyak kaum wanita. Yakni, Yana mampu menjaga reputasinya di hadapan sang istri untuk menutupi kelakuan bejatnya. Di belakang itu, Yana ternyata playboy sejati yang doyan main api.
“Saya percaya saja soalnya suami diapain aja nurut. Ternyata, dia pakai jurus dua kepribadian buat ngelabuin saya,” ungkapnya kecewa. Makanya, jangan galak-galak sama suami, ini juga peringatan buat para istri lainnya juga ya.
Pertemuan keduanya terjadi ketika Yana mendapat tender proyek bangunan sebuah rumah mewah di perkampungan tak jauh dari rumah Yani di Pandeglang. Awalnya, Yani yang sering melewati lokasi proyek sering digoda para kuli setiap pergi atau pulang kerja, bukan Yana. Wajar Yani digoda, wajahnya lumayan cantik, putih, dan sederhana. Setiap digoda, Yani pun seperti kebanyakan gadis kampung lainnya, tersipu malu.
“Maklum, di kampung jarang-jarang ada pemuda dari kota godain. Kuli juga lumayan,” ujarnya.
Alangkah senangnya Yani karena ternyata Yana-lah yang menaksir kepadanya. Yana tak lain adalah mandor proyek meskipun usianya terbilang muda. Yani pun kepincut dengan wajah Yana yang lumayan ganteng dan kalem.
Lirikan Yani pun dibalas Yana. Cling. Seiring waktu, mereka tak sengaja bertemu di sebuah warung biasa di mana para kuli proyek istirahat untuk sekadar makan, merokok, sambil minum kopi. Dari situlah, awal perkenalan Yani dengan Yana.
Yana yang pendiam harus dicomblangi anak buahnya yang sudah pada pakar soal wanita agar bisa mendekati Yani. Mulai dari dikenalkan, dimintakan nomor telepon, sampai diajak janjian untuk bertemu, semua lewat anak buah Yana. Komunikasi mereka akhirnya berlanjut melalui ponsel, medsos, sampai bertatap muka langsung.
Singkat cerita, mereka pun sepakat berpacaran. Menyadari Yana yang ngebet duluan, Yani jemawa. Sejak berhubungan, Yani menguasai situasi, kerap menyuruh Yana seenaknya. Kalau perintahnya ditunda-tunda, Yani tak sungkan untuk marah. Yana tak pernah melawan dan selalu menuruti Yani selagi mampu. Mulai dari minta dibelikan baju, sepatu, sampai perhiasan. Pokoknya, semua kebutuhan Yani harus terpenuhi.
“Kadang saya juga seenaknya, minta ambilin inilah, itulah. Padahal dekat, tapi suami nurut aja,“ ujarnya. Ya menurutlah, namanya juga cinta.
Entah karena terlalu cinta atau memang sudah sifat bawaan Yana, semua permintaan Yani tak pernah dibantah Yana. Yani tahunya Yana pemalu sehingga dipikirnya Yana mudah diatur dan tidak akan berbuat macam-macam, terutama dalam hal perempuan.
“Cinta itu buta, Mas. Jadi, waktu itu saya mikirnya kalau sudah cinta, pasti dia mau berkorban apa saja,” ucapnya percaya diri.
Sampailah mereka pada saat yang berbahagia, keduanya melanjutkan hubungan sampai ke pelaminan. Mereka mau menerima segala kekurangan masing-masing. Pesta pernikahan pun dibuat meriah. Lengkap dengan prosesi adat lokal, diakhiri dengan semarak hiburan dangdut oleh biduan lokal yang bohai-bohai.
Malam pertama, mungkin hal terakhir yang paling berkesan bagi rumah tangga mereka. Soalnya, hanya malam itulah keduanya bisa menikmati tradisi belah duren hingga semalam suntuk. Keesokannya harinya sudah lain cerita. Yani mulai menunjukkan taringnya dihadapan Yana.
Yani semakin bawel dan banyak mengatur suaminya termasuk dalam hal pekerjaan. Yani tak bosan memperingatkan Yana agar pulang kerja bisa lebih cepat dan minta untuk tidak langsung keluyuran. Ke mana-mana atau pergi dengan siapa saja wajib lapor.
Yana juga mengiyakan dan tak banyak komentar sampai rumah tangga mereka berjalan empat tahun dan dikaruniai dua anak. Yani tak tahu kalau ‘ada udang di balik batu’. Di balik wajah Yana yang polos dan penurut, ternyata buaya.
“Saya memang galak, tapi bukan berarti enggak sayang. Lihat suami enggak pernah marah dan melawan, kadang kasihan juga. Eh ternyata, cuma akal-akalan doang biar saya enggak curiga,” terangnya.
Yana ibarat duduk seperti kucing melompat seperti harimau. Artinya, orang pendiam jangan diremehkan. Yani terperdaya akan hal itu. Yani tak menyangka, di belakang sepengetahuannya Yana mencuri-curi waktu bermain api. Alasannya cukup masuk akal, orang proyek sudah pasti jarang pulang ketika mendapatkan kontrak kerja. Bahkan, bisa berbulan-bulan Yana tidak pulang demi mencari sebongkah berlian.
Yana ketahuan belangnya, ketika Yani tak sengaja membuka isi ponsel yang ditinggalkan Yana ke kamar mandi. Waktu itu, Yana baru sehari di rumah sehabis menyelesaikan proyek. Siapa sangka, banyak telepon masuk dan SMS mesra dari beberapa wanita yang nomor kontaknya disamarkan. Atas nama Bagus proyeklah, Ade proyeklah, dan sebagainya.
“Sakit hati saya, Mas. Tadinya, saya percaya banget kan. Ternyata, dia berani main api di belakang saya. Bahkan, suka gonta-ganti pasangan. Pas ditanya juga jawabnya enteng, “Ya, seperti yang kamu lihat.” Alasannya, karena capek diomelin terus, merasa tidak dihargai,” ungkapnya kesal.
Bahkan, Yana juga mengaku sering main ke tempat hiburan malam seperti karaoke dan tempat dugem, sampai panti pijat plus plus segala dengan alasan menghilangkan stres karena mendapat tekanan istri di rumah.
Yani sempat terbawa emosi hingga membuatnya mengajukan gugatan cerai. Namun, alasan Yana yang cukup masuk akal membuat proses mediasi kasus gugatan cerai mereka berlarut-larut tak berujung.
Gugatan cerai dilayangkan Yani lantaran sang suami selingkuh. Sebaliknya Yana menolak perceraian dengan berbagai alasan termasuk soal anak yang mendapat dukungan pihak pengadilan. Sampai akhirnya, Yani sadar akan kesalahannya dan mengurungkan niat bercerai. Sejak itu, Yani berubah menjadi istri yang baik dan patuh terhadap suaminya.
“Ya, suami kayak begitu mungkin salah saya juga kali ya,” katanya. Waduh, entah ya Mbak. “Mudah-mudahan Mas Yana berubah,” harapnya. Amin. (Nizar S/Radar Banten)








