RIRIN (bukan nama sebenarnya), termasuk sosok wanita penyabar. Selama dua tahun membina bahtera rumah tangga bersama Ridwan (25), juga nama samaran, bisa bertahan, meski ia tak pernah merasakan kebahagiaan. Hal itu dipicu sikap mertua yang banyak mencampuri urusan rumah tangga mereka.
Ironisnya, Ridwan tidak pernah bisa berbuat apa-apa ketika Ririn merasa dizalimi ibu mertuanya, sebut saja Hebring (45). Pengaduannya kerap diabaikan Ridwan yang lebih memilih membela ibunya. Padahal, jelas-jelas ibu Ridwan-lah yang menjadi sumber keretakan rumah tangga mereka. Lantaran kesal, Ririn memilih pisah dan meninggalkan Ridwan selamanya.
“Sabar kan ada batasnya. Semut aja marah kalau sakitnya kayak begitu,” keluhnya.
Ririn benar-benar tidak menyangka, Ridwan yang selama ini dikenal perhatian dan sayang terhadap Ririn selama pacaran, pas menikah mendadak lemah. Ridwan tak pernah membela atau sekadar menjadi penengah ketika Ririn dicerca Hebring. Dianggap tidak becus kerjalah, bukan sosok istri yang baik bagi putranyalah, dan sebagainya. Padahal, justru Hebring-lah yang kerap memperlakukannya dengan buruk selama tinggal di rumah. Yakni, suka menyuruh-nyuruh seenaknya seperti mencuci piring, mengepel, mencuci pakaian, sampai nyetrika, padahal punya pembantu di rumah. Namun, Ririn yang ingin menunjukkan sebagai istri bisa dibanggakan suami, tak bisa berbuat apa-apa.
Ririn hanya bisa terdiam karena pengaduan apa pun yang disampaikan Ririn tak pernah digubris Ridwan. Seolah Ridwan tak percaya dengan semua perkataan Ririn dan lebih membela Hebring. Padahal, Ririn tidak meminta apa pun selain meminta perlindungan suami. Tujuan Ririn cuma satu supaya Hebring tidak terlalu benci kepadanya dan bisa lebih bersikap wajar layaknya menantu. Namun, apa yang terjadi, Ridwan bukannya memberikan pengertian kepada Hebring dan menjadi penengah, malah diam saja dan tidak berkutik sama sekali. Alasannya, takut kualat.
“Harusnya demi keutuhan rumah tangga jangan takut kualat. Kalau begini caranya, mana tahan. Jadi, serasa istri kedua,” ujarnya kecewa.
Sikap ketidaksukaan ibu mertua, sudah diperlihatkan sejak pernikahan. Tak sedikit pun mimik Hebring menunjukkan kebahagiaan melihat anaknya duduk di pelaminan. Malah, Hebring tak sedetik pun sudi untuk duduk bareng di kursi pelaminan. Situasi itu pun menjadikan momen yang seharusnya mengesankan menjadi membosankan.
Ketika mendapatkan ucapan selamat dari kerabat maupun besan pun, tak terlihat batang hidung Hebring untuk sekadar bersalaman. Padahal, diakui Ririn tak sedikit pun hubungan mereka didasari rasa cinta, melainkan bertepuk sebelah tangan. Perasaan Ridwan awalnya tak pernah ditanggapi Ririn. Hanya, kegigihan Ridwan yang berjuang mendapatkan hati Ririn patut diacungi jempol. Ia tak bosan berkali-kali menyampaikan niatnya yang ingin meminang Ririn. Entah sudah ke berapa kali juga Ririn menolak. Alasannya, Ririn belum bisa move on semenjak ditinggal pergi mantan yang memilih wanita lain.
“Saya enggak bisa lupain mantan, Mas. Tapi, Mas Ridwan pintar cari celah. Dia dekati orangtua saya,” terangnya.
Sampai akhirnya, tabiat Ridwan mendapat simpati orangtua Ririn. Setelah dinasihati orangtua, Ririn luluh juga dan mereka pun langsung merencanakan tanggal pernikahan.
Usai menikah, mereka tinggal di sebuah kontrakan. Namun, hanya bertahan satu bulan karena terkendala biaya. Maklum, status Ridwan baru sebatas karyawan biasa yang gajinya pas-pasan. Meski begitu, kehidupan Ridwan dan Ririn adem-adem saja. Jarang, terdengar di antara mereka terjadi perselisihan.
Merasa harus berhemat sementara, Ridwan yang merupakan anak satu-satunya, disarankan Hebring tinggal di rumahnya. Di sanalah, petaka datang. Dari sejak menginjak rumah orangtua Ridwan, Ririn sudah tidak mendapat sambutan hangat, malah lebih banyak diabaikan.
“Dari awal saya sudah tidak mau pindah. Mending tinggal di kontrakan butut, tapi jiwa tenang. Daripada tinggal di rumah gedung banyak setannya,” ujarnya. Setannya mertua ya, Mbak?
“Habis kesal Mas, suami juga malah suka bela mertua kalau kita ada masalah. Padahal, sumber masalahnya ada di mertua itu, tapi Mas Ridwan enggak pernah mau tahu dan diam saja,” jelasnya.
Melihat gelagat Ridwan tak bisa berbuat apa-apa karena terbilang penurut. Soalnya, rumah tangganya kerap mendapat tambahan biaya dari orangtua, dinilai Ririn sudah tidak bisa diharapkan. Puncaknya, ketika Ririn hamil. Seharusnya, masa mengidam masanya manja-manjaan kepada suami, justru sebaliknya. Ririn malah makin dikerjai Hebring dan tak pernah diurus. Permintaan Ririn selalu dilarang-larang oleh Hebring.
“Katanya, jadi istri itu enggak usah manja. Kasihan suami capek cari kerja. Mending bantu tuh pembantu, biar proses kelahirannya lancar, begitu tuh,” ucap Ririn menirukan perkataan Hebring. Pokoknya, tak pernah akur.
Tibalah masa kelahiran, tetapi Ririn malah mengalami kesakitan luar biasa. Benar saja, Ririn mengalami pendarahan dan harus dirawat intensif di rumah sakit karena kondisinya kritis. Beruntung, Ririn dan bayinya bisa diselamatkan. Hanya saja, Ririn disarankan dokter agar setelah melahirkan jangan terlalu capek. Namun, mertuanya justru kembali memperlakukan Ririn dengan kasar. Lantaran itu, Ririn yang merasa menderita angkat kaki dan pergi dari rumah mertuanya. Ia kemudian kembali ke rumah orangtuanya di Pandeglang. “Setelah itu, saya langsung melayangkan gugatan cerai,” katanya.
Gugatan Ririn pun diterima oleh Ridwan dan diamini Hebring yang memang mengharapkan mereka bercerai. Keduanya bercerai secara baik-baik. Untuk meninggalkan masa lalu, Ririn yang kini menyandang status janda mulai berkarir bekerja menjadi pramuniaga di Serang. “Mendingan jadi janda, Mas. Daripada menderita. Insya Allah, jodoh enggak ke mana, yang menaksir ada-lah,” katanya. Syukur deh, Mbak. (Nizar S/Radar Banten)









