Sejak 8 Januari 2025 hingga 18 Juni 2026, program Makan Bergizi Gratis sudah berjalan 1 tahun 161 hari. Bukan waktu yang sebentar untuk membaca arah sebuah program. Apalagi program sebesar MBG. Program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo-Gibran ini sejak awal memang mengundang perhatian. Dipuji iya. Dikritik juga iya. Dibela iya. Dipersoalkan juga iya.
Saya termasuk orang yang setuju dengan MBG. Bahkan sejak awal saya melihat program ini bukan program biasa. Ini bukan sekadar negara memberi makan anak sekolah. Bukan hanya soal nasi, lauk, sayur, buah, dan susu dalam satu kotak makan.
MBG jauh lebih besar dari itu. Kalau dikelola dengan baik, MBG menjadi mesin ekonomi dari bawah. Dapur-dapur SPPG menyerap tenaga kerja. Ibu-ibu ikut memasak. Anak-anak muda yang belum bekerja mendapat pekerjaan. Petani sayur punya pasar yang lebih pasti. Peternak ayam, telur, ikan, dan sapi ikut bergerak. Pedagang beras, bumbu, gas, kemasan, sampai jasa angkut ikut hidup.
Uang negara tidak hanya turun sebagai belanja. Uang itu berputar di kampung-kampung. Masuk ke pasar. Masuk ke warung. Masuk ke dapur warga. Masuk ke kantong pekerja harian. Di titik itulah MBG bisa menjadi program gizi sekaligus program ekonomi rakyat.
Karena itu, sayang sekali kalau program sebesar ini hanya dibaca dari jumlah porsi. Berapa juta kotak dibagikan. Berapa dapur berdiri. Berapa sekolah menerima. Angka-angka itu penting. Tetapi angka tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran. Sebab yang dimakan anak-anak bukan angka.
Di lapangan, masih banyak cerita yang membuat masyarakat bertanya. Makanan datang sudah dingin, bahkan disebut tidak lagi layak santap. Lauknya terlalu sederhana. Ada anak yang tidak mau makan. Ada guru yang akhirnya membujuk murid agar makanan tidak terbuang. Ada orang tua yang bertanya, apakah makanan seperti itu benar-benar cukup untuk memperbaiki gizi.
Pertanyaan seperti itu tidak perlu membuat siapa pun marah. Tidak perlu pula langsung dicap menghambat program. Dalam program publik, kritik adalah alarm. Kadang bunyinya memang tidak enak. Tetapi justru karena itulah ia berguna.
Yang dikritik bukan niat Presiden. Yang dipersoalkan bukan gagasan besarnya. Yang dikhawatirkan adalah tata kelolanya. Dari hulu sampai hilir.
Masalah bisa dimulai sejak bahan dibeli, sejak dapur dipilih, sejak menu disusun, sejak makanan dikemas, bahkan sejak perjalanan menuju sekolah. Rantainya panjang. Kalau satu bagian longgar, akibatnya bisa sampai ke perut anak-anak.
MBG juga harus lebih jernih dalam membaca prioritas. Di pusat-pusat kota, banyak sekolah favorit menerima lebih dulu. Bahkan sebagian siswanya berasal dari keluarga yang secara ekonomi cukup. Tentu mereka tetap anak bangsa. Tetapi di saat anggaran negara tidak ringan, rasa keadilan publik ikut bicara.
Di desa-desa, di pinggiran, di kampung-kampung, masih banyak anak yang lebih membutuhkan. Masih banyak ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dari keluarga tidak mampu yang seharusnya berada di barisan paling depan. Bukan berarti di kota tidak ada yang miskin. Ada. Tetapi prioritas harus dibaca dengan mata yang lebih tajam.
Kalau yang mampu menerima lebih dulu, sementara yang paling membutuhkan menunggu belakangan, program baik bisa kehilangan rasa.
Di sinilah MBG harus dijaga bersama. Pemerintah tidak mungkin mengawasi semuanya sendirian. BGN tidak mungkin melihat semua dapur setiap hari. Laporan dari atas perlu dilengkapi suara dari bawah. Foto makanan yang tampak rapi perlu dibandingkan dengan cerita anak-anak yang memakannya.
Guru yang setiap hari melihat anak-anak makan harus didengar. Orang tua yang tahu kebiasaan anaknya juga perlu diberi saluran. Puskesmas dan ahli gizi jangan hanya hadir di dokumen. Media dan warga pun tidak perlu buru-buru dicurigai. Dalam program sebesar ini, mata publik justru membantu negara bekerja.
Kalau ada laporan makanan tidak layak, tindak lanjuti. Kalau ada SPPG asal-asalan, evaluasi. Kalau ada pemasok bermain, putus. Kalau ada menu tidak sesuai, perbaiki.
Pengawasan jangan diperlakukan sebagai gangguan. Pengawasan justru membuat program ini selamat.
Pergantian pucuk pimpinan BGN semestinya menjadi pintu masuk untuk membenahi MBG secara besar-besaran. Bukan sekadar berganti orang, sementara cara kerja lama tetap berjalan. Program sebesar ini perlu dibaca ulang dengan jujur. Dapur mana yang layak, mana yang dipaksakan. Mitra mana yang benar-benar amanah, mana yang hanya rapi di berkas. Daerah mana yang seharusnya lebih dulu menerima, dan mana yang selama ini cepat karena dekat dengan pusat keputusan.
MBG ke depan tidak bisa diperbaiki setengah hati. Hulu sampai hilir harus dibereskan. Dari dapur SPPG, pasokan bahan pangan, ahli gizi, distribusi, kanal pengaduan, sampai memastikan makanan itu aman setelah sampai di tangan anak-anak. Kepemimpinan baru BGN harus lebih berani mendengar. Sebab program ini terlalu besar jika hanya dijaga oleh laporan. Ia harus dijaga oleh sistem yang kuat, pelaksana yang jujur, dan masyarakat yang diberi ruang ikut mengawasi.
Saya tetap percaya MBG adalah agenda besar. Ia bisa memperbaiki gizi anak, menggerakkan UMKM, membuka lapangan kerja, menyerap pengangguran, dan memperkuat ekonomi lokal. Tetapi kebesaran program ini harus diimbangi dengan kebesaran tanggung jawab.
Jangan sampai MBG hanya ramai di seremoni, besar di laporan, tetapi lemah di piring anak-anak.
Program ini harus terus berjalan. Tetapi berjalan saja tidak cukup. Ia harus sampai dengan benar. Aman dimakan. Layak diterima. Tepat menyasar. Dan terasa manfaatnya, bukan hanya di meja sekolah, tetapi juga di dapur rakyat kecil.
Karena MBG bukan hanya urusan makan gratis. Ini urusan gizi anak-anak. Urusan dapur rakyat. Urusan lapangan kerja. Urusan kepercayaan publik kepada negara.
Niat baik ini terlalu besar untuk dibiarkan berjalan asal cepat. Masif memang penting. Tetapi untuk makanan anak-anak, mutu jauh lebih menentukan daripada sekadar cepat sampai. (*)










