Tatu juga menyampaikan terima kasih kepada Polda Banten, Korem 064 Maulana Yusuf Serang dan Radar Banten yang konsisten mengawal keberlangsungan LKBA dari 2019 hingga kini. Menurut politisi partai Golkar itu, LKBA akan terus digulirkan hingga kesadaran dan kepedulian warga terhadap lingkungan terbentuk. “Ini program yang berat, tapi kami optimistis bisa menyukseskan dengan sinergitas semua elemen,” ujarnya.
Lomba ini, tambah Tatu, merupakan program yang langsung menyentuh masyarakat. Menurutnya, jika program pembangunan hanya dilaksanakan oleh intansi pemerintah saja, maka akan sulit berkembang. Tapi lain dengan LKBA, program ini langsung dijalankan oleh masyarakat dan dampaknya langsung dirasakan warga. “Semoga tahun ini banyak wisata desa baru bermunculan,” harapnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Serang Rudi Suhartani menambahkan, secara teknis LKBA tahun ini masih sama dengan LKBA tahun lalu hanya waktunya saja dipersingkat untuk menghindari kerumunan warga. “Jadi teknisnya langsung pada intinya, sosialisasi, sampai penilaian,” ujarnya.
Terkait pelaksanaan lomba, di awal Oktober juri akan mulai penilaian. Di awal November penilaian juri tertutup, kemudian di minggu ketiga November mengolah data hasil penjurian, di akhir bulan itu sudah penetapan pemenang dan pemberian hadiah. “Selamat berlomba segera tata lingkungan dan ciptakan destinasi wisata dimulai dari pekarangan rumah,” imbaunya.
Sementara itu, Direktur Radar Banten dan Banten TV Mashudi menilai, LKBA bukan hanya mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan aman tapi juga membuat warga bangga dan peduli pada kondisi kampungnya. “Kita bisa belajar banyak dari Ojat Darojat, mantan kades Cikolelet, Kecamatan Cinangka,” ujarnya.
Menurut Mashudi, apa yang diraih Desa Cikolelet saat ini merupakan hasil dari kuatnya partisipasi masyarakat. “Kalau partisipasi warganya bagus, semua kriteria lainnya pasti bagus,” pungkasnya. (drp/alt)











