RADARBANTEN.CO.ID – Kerajinan tangan khas Suku Baduy berupa koja sampai di Jerman. Koja sendiri merupakan tas yang dibuat dari bahan kayu teureup atau dalam bahasa latin Artocarpus.
Bahan kayu tersebut diketahui memiliki ketahanan terhadap rayap. Kerajinan tangan darisekelompok masyarakat adat Sunda yang tinggal di wilayah pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Kerajinan tersebut dibuat secara tradisional. Yaitu, dengan cara masih menggunakan tangan dengan cara disimpul dan proses ini dimulai dengan mencari pohon yang di ambil sebagai bahan dasarnya.
Pembuatan koja sendiri tidak sesederhana yang dibayangkan. Pertama, kulit kayu direndam agar serat-seratnya terpisah lalu kemudian dijemur hingga kering dan dianyam membentuk sebuah tas.
Jenis simpul yang digunakan adalah simpul jangkar namun masyarakat Baduy menamainya sendiri dengan sebutan “jegjeg” yang artinya simpul tegak sejajar. Dalam filosofi mereka koja merupakan sebuah identitas yang tidak mudah dipengaruhi oleh budaya luar.
Tas koja ini sendiri berfungsi sebagai wadah tempat membawa alat-alat pertanian atau membawa hasil panen dari masyarakat Baduy. Tas ini dapat dipakai dengan cara dijinjing pada bagian pundak atau juga bisa disilang pada bagian pundak.
Tas yang dibuat dari hasil alam tersebut dibawa oleh Kombes Pol Shinto Silitonga yang saat ini bertugas di Atase Kepolisian di Berlin. Alumnus Akpol 1999 tersebut, sengaja membawa koja dari Banten dan memperkenalkannya kepada Pehimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman atau Die Vereinigung Indonesischer Studenten.
Tak hanya memperkenalkan kebudayaan Suku Baduy, pria berdarah Batak itu juga membagikannya kepada PPI di Jerman pada akhir pekan kemarin.
“Saya ingin Pehimpunan Pelajar Indonesia di Jerman mempromosikan budaya Suku Baduy saat mereka beraktivitas di kampus, di tempat kerja atau pun dalam kegiatan sehari-harinya,” kata Shinto, Senin 15 Mei 2023.
Shinto meyakini, kebudayaan yang dimiliki masyarakat Suku Baduy dapat menarik minat warga Eropa untuk datang ke Banten. Oleh karenanya, ayah empat anak itu menanggap perlu upaya sosialisasi budaya agar keunikan Suku Baduy dapat tersiar di luar negeri.
“Negara kita beragam budaya dan sangat kaya akan hasil budaya. Saya yakin kebudayaan ini (Suku Baduy-red) dapat menarik minat warga sini (Jerman-red),” tutur mantan Kapolres Gowa, Polda Sulawesi Selatan tersebut. (*)
Reporter: Fahmi Sa’i
Editor: Aas Arbi











