Menurutnya hal itu karena belum adanya regulasi yang memihak kepada pengusaha pribumi. “Kalau kaya gini yang terjadi masing-masing, cuma ujungnya tetap saja orang Korea jadi maincont-nya kita jadi subcont, itu karena tidak ada kontrol dan pengawalan dari pemerintah, kemudian persatuan di antara kita sebagai pengusaha daerah juga kurang,” ujar Ketua HIPPI Banten Syaiful Bahri, Kamis 10 November 2022 lalu.
Dijelaskan Syaiful saat ini, kondisi saat ini pengusaha pribumi belum mendapatkan kesempatan menjadi pemain utama dalam proyek atau pengadaan barang maupun jasa. Pengusaha lokal masih menjadi subcont, bahkan menjadi pihak ketiga hingga ke empat dalam setiap projects.
“Kita kalaupun dapat subcont kedua dan ketiga, jadi kita hanya dapat tulangnya saja,” ujar Syaiful.
Menurut dia harus ada pembahasan secara bersama-sama antara pemerintah daerah, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) serta pihak Lotte Chemical.
“Menurut saya harus duduk bareng antara pemerintah kota, Kadin, bersama stakeholder dari Lotte Chemical atau investor lain duduk bersama,” tuturnya.











